2014

Ambari Re-union
Universitas Kristen Maranatha

Kuratorial
Ismet Zainal Effendi
Sarijadi, 25 April 2014

Kebenaran tentunya bukanlah hal yang relevan dipertanyakan definisinya saat ini, kebenaran mutlak hanyalah angan-angan yang masih harus dengan jerih payah kita raih. Sisi Ethic (Agama) bukanlah solusi yang relevan juga untuk menyatakan kebenaran ini, berabad-abad bahkan melampaui beberapa millennium, agama hanyalah aransemen nilai-nilai dan kombinasi dari hukum-hukum yang hanya mengatur norma dan batasan-batasan saja, hakikat kebenarannya yang datang dari hal-hal yang metafisik (Tuhan),  kadangkala direduksi dan ditumpangtindihkan dengan kepentingan yang bersifat komunal, bahkan individual. Intinya ethic saat ini sangat tidak bisa diharapkan menjawab tuntutan jaman dan hasrat manusia, begitu pula wilayah logic, otak kita dengan kemampuan berpikirnya yang sangat terbatas, sulit mengungkapkan akan hakikat kebenaran, satu teori ilmiah, dengan segera dihancurkan atau diruntuhkan oleh teori baru yang muncul, terus-menerus seperti itu, sampai saat ini, pendeknya sains (dalam hal ini) sudah tidak relevan dan berwibawa lagi untuk dapat menjelaskan berbagai hal yang esensial. Namun sisi aesthetic rupanya memiliki peluang dan harapan besar akan mampu menjawab pertanyaan ini semua, sisi estetika memberi keleluasaan kita dalam berpikir dan bergerak, tanpa batas dan tanpa intervensi dari apapun, baik dari ethic maupun logic. Filsafat dan seni saat ini (atau mungkin dari dahulu) sangat memberi harapan bagi pemecahan semua misteri dan semua problematika di Dunia Ini, itulah mengapa filsuf dan seniman memiliki pola pikir yang unik, sehingga disinyalir akan memberikan harapan yang cerah di masa depan dengan penemuan-penemuan paradigmatiknya, meskipun seniman mengejwantahkannya dengan bentuk yang berbeda dengan filsuf, yakni lebih mengandalkan persepsi langsung dan intuisi, daripada argument rasional. Namun keduanya mampu mencerahkan manusia melalui karya-karyanya.

Seniman dalam berkarya, tentunya memiliki tujuan yang penting, itulah bagaimana sulitnya mengejawantahkan gagasan dan rasa estetik dalam rangka upaya merespons jamannya, merespons pengalaman empiriknya, sehingga mewujud sebuah karya seni, tentunya, fungsi dasar karya seni bukanlah untuk membantu manusia dalam melakukan aktifitas fisik layaknya teknologi masinal dan digital, seni  juga tidak memberikan dampak langsung terhadap pola pikir ataupun kinerja otak seseorang yang melihatnya, seni  tidaklah berfungsi seperti  demikian, seorang pelukis ataupun pematung, tentunya  tidak  memiliki pemikiran kalau karyanya adalah berfungsi untuk menghias ruangan ataupun  dinding  rumah seseorang, rasa-rasanya  seni tidak serendah itu diperuntukkan, namun merupakan bentuk pengejawantahan gagasan dan pemikiran serius dari senimannya pada audiens demi merespons  kondisi  realitas-sosial di jamannya.  Seni  memiliki keluhuran arti dan tentunya ketinggian  maknawi, bukan pada wilayah narasi ataupun  sisi visual semata, namun di wilayah proses kreasi dan presentasinya juga, mereka terakumulasi secara paripurna dan terintegrasi secara komprehensif, sulit untuk dipisah-pisahkan, seorang seniman yang berkarya dan karyanya hanya disimpan  dan  dinikmati sendiri, tentunya  akan  hilang  dan  melenceng dari kaidah berkesenian saat ini, seniman saat ini dituntut untuk merefleksikan kondisi paling ‘anyar’ melalui  karyanya, baik secara visual maupun konseptual, tujuan intinya jelas untuk menyampaikan pesan, sulit rasanya bila seniman berkarya hanya sebatas mengerjakan artefak dalam rangka olah bentuk, warna, garis, dan tekstur semata, pastinya ada sisi nilai lain yang diusung selain mengaransemen unsur-unsur rupa itu, itulah makanya, ungkapan jaman modernism: “ars gracia artis” atau “Art for Art’s Sake”  masih sangat relevan sampai saat ini, tidak akan pernah mati, disadari ataupun tidak oleh senimannya, semangat avant-gardisme akan tetap nyala demi progresifitas, karya seni merupakan bentuk fisik dari kecerdasan berpikir si senimannya, dan itulah bentuk  avangardisme yang kongkret.

Pameran Kelompok Ambari yang mengangkat tema sederhana “The Ambarians:  Re-Uni-On” ini adalah salah satu bentuk  pengejawantahan konteks di atas, kelompok yang mulai terbentuk (secara tidak sengaja) tahun 1998 ini, merupakan kelompok seniman pertama di Kota Bandung (yang terkenal akan urban-style, modern, dan sekaligus individualismenya). Kelompok Ambari kali ini, hanya ingin mengenang  masa-masa  kuliah mereka jaman dulu di mana seni masih sangat menggairahkan, intimidasi dan intervensi hampir tidak ada, kekuasaan  berkarya  mutlak ada di tangan seniman masing-masing, dalam level ini, itulah hakikat murni seorang seniman, bebas berekspresi dan tidak mengacuhkan batasan-batasan, keleluasan dan pemberontakan ini, dari sisi seniman, adalah kebahagiaan yang mutlak tentunya, dibandingakn berkarya demi hal-hal yang sangat tidak substansial dan irrelevan. “Re-Uni-On”, bukan semata tema sederhana yang diartikan secara harfiah, meskipun memang awalnya mereka memang ingin ‘berkumpul kembali’ setelah lama tidak berpameran bersama (terakhir tahun 2006), namun program ini ingin sedikit banyak bereaksi akan ‘kedinginan’ suhu seni rupa di Bandung yang mulai  melempem, pasca  arus kuat pasar yang melanda seniman  muda  Bandung, sekitar empat atau lima tahun ke belakang, “Re” artinya mereka mengajak untuk kembali ke fitrah berkesenian yang tulus dan menitikberatkan sisi artistik dan estetika, karena itulah ‘soul’nya seorang seniman, dan ini harus berada di jalur yang ‘benar’. ‘Uni’, artinya mereka mencoba mengajak dan menyadari pentingnya kebersamaan dan kebersatuan antara seniman dan institusi seni, mereka harus bersinergi demi hangatnya medan sosial seni, terutama di Kota Bandung ini, dan “On”, ini layaknya kode atau sinyal yang dinyalakan pada semua masyarakat seni rupa Bandung umumnya, khususnya buat Kelompok Ambari untuk ‘meramaikan’ dan ‘memanaskan’ lagi suhu berkesenian di Bandung ini,  Karya yang dipamerkan pun sangat beragam, baik dari sisi visual maupun tematiknya, meskipun hanya tiga tema besar yang biasanya  diusung seniman, pertama wilayah personal, lalu wilayah sosial, dan ketiga adalah wilayah sosio-personal, seniman yang berpameran menunjukkan karakter kuatnya pada masing-masing karyanya, itu ditunjukkan dengan kepercayaan akan betapa kuatnya ‘keterampilan tangan’ yang dimiliki oleh masing-masing seniman, banyak yang beranggapan kalau seni rupa kontemporer adalah seni rupa yang dalam proses dan presentasinya menggunakan teknologi yang super canggih, sehingga  hal-hal yang konvensional-manual dianggap  ketinggalan jaman, usang dan ‘sedih’, tentunya hal itu keliru sekali, seni rupa kontemporer, bukanlah ditunjukkan dengan kecanggihan-teknologi  saat ini (yang mutakhir) dalam proses ataupun eksekusi karyanya, bukan medium dan teknik semata yang menunjukkannya, namun pemahaman kontekstualnya. Postmodernisme  adalah kata kuncinya, bukan persoalan ‘hi-tech’, namun pola-pikir masa kini yang diungkapkan ke wilayah karya seni atas dasar progresifitas dan kebaruan (novelty), sehingga membedakannya dengan seni rupa tradisi, itulah yang disebut  seni  rupa  kontemporer, teknik dan mediumnya silahkan pilih, yang manual-konvensional, ataupun  digital-inkonvensional, semuana hampir  tidak begitu penting lagi untuk dijadikan perbincangan. Pada pameraan kali ini, Kelompok Ambari ini menunjukkannya  dengan manual-konvensional, sehingga  tidak satu pun karya yang disajikan bernuansa digital atau new-media-art, dan hampir semuanya menyajikan pada konvensi lukisan (cat di atas kanvas atau kertas), beberapa bahkan dengan teknik drawing, meskipun ada yang memamerkan karya seni  trimatra  yakni objek  dan patung.

Ketelatenan itu dapat dilihat dari hasil karya seni mereka, misalnya pada konvensi teknik drawing, dapat dilihat dari karya  Rieswandi, Chrisopher Widyoseno, dan Ismet Zainal Effendi, sangat kentara intensifitas, ketelatenan, dan ‘kesabaran’ yang dilakukan ketiga seniman tersebut, bedanya Ismet  melakukan teknik drawing ‘murni’ di atas kertas, dengan subject-matter figur-figur monstrous dan absurd, Ismet murni hanya mengolah esensi drawing yakni aransemen garis pada bidang, dia seolah mencoba mengemukakan bahwa esensi seni rupa terletak pada kaidah drawing bila dilihat dari sisi teknik, serta signifikansi sketsa pada wilayah proses-kreasi, dan itu menjadi fondasi  setiap perupa, itulah kenapa teknik ini merupakan modal awal dari seorang seniman di samping pemahaman konsep estetikanya yakni  mengusung harmonisasi unsur-unsur dan prinsip-prinsip seni rupa. Sementara itu, Rieswandi dan Christopher menggabungkan teknik drawing dengan konvensi lukisan di atas kanvas, Rieswandi intens pada objek-objek imajinatif, non-figuratif dan abstraktif, subject-matter yang dia tampilkan  bukanlah manusia, hewan atau tumbuhan, namun seperti berada di antaranya, objek-objek ini tidak mati, seolah hidup, berinteraksi, bernapas dan bereproduksi, namun sulit sekali diidentifikasi, kesan sepi dan tenang tampak pada komposisi dan warna-warna lembut natural, ini sangat kontemplatif bila dilihat dari sudut pandang spiritualitas, karya Aris seperti mengungkapkan keagungan dari konsep keheningan, berbeda dengan Christopher yang memang sangat dinamis dan hiruk-pikuk, karyanya dipenuhi oleh karakter garis dan bentuk, baik pada latar belakang maupun pada latar depan, ditambah lagi dengan kehadiran teks-teks yang ditulis secara scrabble, yang dia sebar secara sporadis pada bidang karya, figur-figur yang dia tampilkan sepintas seperti hewan yang dipersonifikasi, namun bila ditilik lebih detail, justeru sebaliknya, sosok manusia yang seolah berlindung atau bersembunyi di balik keberadaan binatang, ada konteks ironi pada karyanya, manusia sebagai makhluk sempurna dan mulia, namun baginya seakan kalah oleh eksistensi dan kejumawaan hewan, Christopher seolah mengajak kita untuk lebih memahami sisi humanisme, dia seolah mengajak kita mempertanyakan kembali empati kita akan eksistensi makhluk yang lainnya, hewan boleh jadi sangat nyaman menjadi tempat untuk kita berlindung. Pada konvensi lukisan didominasi oleh karya-karya Indra Widiyanto, Jalu Trisapta, Julius Setiawan, Rio Ardani , Joedith Tjhristanto, Shevia Firmansyah, dan M. Gilang Ajiswara.

Karya mereka memiliki kecenderungan figuratif semua, namun tentunya tema dan citarasa yang mereka usung sangat beragam, Indra  mencoba merefleksikan realitas-sosial dengan warna-warna dingin (warna tertier) melalui figur-figur ‘kembar-identik’ dalam berbagai gestur yang dihadirkan bersamaan, Indra mencitrakan ruang dan waktu pada karyanya, ada fase-fase narasi yang dihadirkan dan justeru ditampilkan sejajar dan bersamaan, Indra mereduksi narasi tunggal, dia seolah menampilkan beragam dimensi kehidupan dalam waktu yang berbeda, namun dia akumulasikan pada visualisasi yang  juxtaposed, Indra mensejajarkan berbagai entitas dalam satu wilayah, ada impresi mistik-surealistik yang sangat tersasa pada karyanya terutama pada karya yang berjudul:  “so you think you can tell, heaven from hell, blue skies from pain, can you tell a green field from a cold steel rail,a smile from a veil, do you think you can tell?”. Sementara karya Jalu yang juga merepresentasikan wilayah realitas social, didominasi oleh warna-warna primer, kesan dinamis dan ‘agresif’ sangat terasa, ditambah dengan hadirnya sosok-sosok “absurd” dengan mimik muka dan ekspresi yang satir, cemas, marah, bahkan menakutkan, bola mata besar (seperti melotot), seting serta fragmen yang sangat ganjil, Jalu seolah merayakan kehirukpikukan peradaban yang dia pahami sangat kompleks dan overlap, Jalu entah berada pada posisi setuju atau menentangnya, namun sejatinya kemeriahan tampak pada gestur dan komposisi pada semua karyanya, hampir sama dengan yang ditampilkan oleh Rio Ardani, bedanya, Rio mempresentasikannya melalui figur imajiner yang grotesk, yakni figur dengan susunan dan konstruksi anatomi yang ‘campur-aduk’ antara hewan dan manusia, dan susuna non-anatomis lainnya, berbeda dengan Jalu, Rio membuat latar belakang yang flat, seolah tidak berarti apa-apa, namun yang tersirat dari karya mereka adalah bahwa dunia ini seolah nampak kelam dan menakutkan, namun sekaligus menyenangkan, ini misterius namun sangat mengusik pemikiran dengan pola-pola yang rumit, namun sekaligus sederhana, sangat paradoks. Sementara karya Julius meskipun beberapa menampilkan citra dunia sosial-politik, namun yang lainnya justeru menampilkan dunia sosial-estetis (dunia seni rupa itu sendiri), Julius memvisualkan citarasa ‘usang’ atau ‘rusak’ dengan cara estetis, karyanya seperti selembar foto yang terkena ‘korosi’ udara atau air, hal itu ditunjukkan dengan spot-spot yang menyebar di hampir seluruh bidang karya, dia seolah mengatakan “apapun itu, sekarang sudah rusak dan usang”, bukan untuk menegasi kemajuan, namun seperti mengingatkan kita akan kepercayaan adanya ketidak sempurnaan akan segala sesuatu, politik, seni atau apapun,baginya emua hanya lah citraan yang tersisia meskipun mereka sudah terkena ‘korosi’ dengan sendirinya. Sementara karya Shevia, Joedith, dan Gilang, merefleksikan realitas-sosial dengan cara-cara yang realistis, meskipun Shevia dan Joedith mencobanya dengan cara ‘memotret’ secara utuh, sedangkan Gilang dengan nuansa impresif. Sisi simbolik terasa pada karya Shevia dan Joedith, justeru karena ditampilkan ‘apa-adanya’, sehingga misterius, audiens seolah diajak untuk merenungkan dan memikirkan bersama apa yang terjadi dengan realitas saat ini, Shevia dan Joedit sedikit bermain dengan ‘gaya reflektif’ sehingga subject-matter utama mungkin bukan figur dominan, namun figur sub-ordinat yang ter-refleksi pada sosok dominan tadi, bedanya pada karya Joedith terasa ada sisi hirarki-simbolik yang coba diungkap olehnya. sementara Gilang merepresentasikan kehidupan keseharian yang sederhana yang identik dengannya, bermain gitar, memainkan gadget, minum kopi dan lainnya, figur-figurnya pun tampil dengan ekspresi sederhana dan  familiar, Gilang mencoba mepresentasikan realitas yang benar-benar intimate baginya. Berbeda dengan karya sebelumnya yang dwimatra, karya-karya berdimensi tiga juga dipresentasikan oleh empat seniman lainnya, yakni Septian Harriyoga, Andi Dwi Tjahyono, Ibnu Pratomo dan Y. Arditya. Septian dan Ibnu Pratomo menampilkan konvensi seni patung yang menitikberatkan pada kemampuan teknis dan presisi, sesuai kaidah luhur seni patung, terutama karya Septian yang mengopi objek alat-alat pertukangan para blacksmith yang dia parodikan menjadi bentuk yang estetik dan lembut, sisi ‘kasar’ pada karakter benda yang notabene berupa baja padat yang sangat berat itu, dia representasikan menjadi objek yang lembut, kinclong dan menawan, ini sisi simbolik yang dia ingin kedepankan, yakni perkara oposisi-biner dari sudut pandang estetika, sedikit berbeda dengan Ibnu Pratomo, dia menanggapi pola dualism bukan pada wilayah, oposisi-biner, namun konsep paradox pada wilayah tradisi atau seni tradisi, yang dia angkat adalah wilayah lingga-yoni, kearifan lokal yang menjadi subject-matternya (berupa keris) namun dia mengubah paradigmanya menjadi ‘objek’ seni rupa, keris bukan lagi senjata bermata logam yang kharismatik, magis dan menakutkan, namun lebih kepada esensi fundamentalnya yang ia usung, keris bukanlah perkara senjata pembunuh, namun media kontemplasi akan kekuatan magis dari perkara dualistik-antagonistik yang paradoksal, lingga dan yoni tidak beroposisi, dan bertentangan, namun berpadu saling mengisi dalam rangka harmonisasi, itulah kenapa Ibnu membuat objek seni ini dari medium kayu. Sementara itu Arditya berbeda dengan  yang lainnya, dia sama sekali tidak membuat seni patung dalam kaidah modernisme, dia lebih kepada ‘menggusur’ found-object ke ranah presentasi, yang dia pamerkan adalah ‘sepotong’ sepeda motor yang biasa digunakan oleh penjual air di wilayah Bandung Barat yang memang rawan akan air bersih, Arditya seolah membawa penggalan kisah dari realitas-sosial masyarakat menengah ke bawah dengan medium sepeda motor tersebut, itulah makanya, karena hal yang sangat realistis yang dia usung, maka lumpur, debu, lumut, karat, air, bau, rusak, usang,  dan penyok  dari motor dan tiga buah jerigen tempat menampung airnya, dia presentasikan tanpa rekayasa, apa adanya dan itu sangat relevan dengan konteks realisme-sosial sebagai konsep paradigmatiknya. Andi lebih gila lagi, yang dia lakukan adalah merespons event pameran ini secara keseluruhan, meskipun karyanya berupa patung kecil dengan teknik konvensi ‘cetak’, namun patung tersebut memegang “caption” atau data karya dari seluruh karya yang di pamerkan pada event ini, ada nuansa perayaan, sekaligus parodik yang dia kemukakan, satu sisi dia seolah bahagia dengan program tersebut sebagai bagian karyanya, di satu sisi dia memang berada pada event tersebut sebagai peserta pameran tentunya, itulah mengapa pada karya yang sebenarnya, dia memasang dua figur (self-portrait-nya)yang saling berhadapa-hadapan, seolah mereka saling mempertanyakan: “lantas yang pegang caption gue siapa? Lo ato gue? Ini sangat ‘nakal sekaligus jenaka’ apa yang dilakukan oleh kematangan konseptual Andi melalui karya responsifnya. Secara keseluruhan karya yang dipamerkan menunjukkan kredibelitas masing-masing seniman, bila dilihat pemetaan secara teknik dan visual, karya yang disajikan bermula dari konvensi drawing murni, kemudian ada pencampuran antara drawing dan lukisan, lalu lukisan murni dan akhirnya  patung lalu objek seni.


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *